Family's Happiness Theory : Ichiko and Nikko's Morning.
WARNING : Menggunakan bahasa sehari-hari, Gak peduli EYeDe.
---
Di tengah hutan yang jauh dari keramaian hiduplah sebuah keluarga bahagia. Keluarga tersebut terdiri dari 5 orang anggota keluarga yaitu, ayah, ibu, dan ketiga anak mereka. Sang ayah (Chichi) adalah ayah yang bijaksana walaupun sifatnya happy-go-lucky dan kepo minta ampun. Sang ibu (Haha) adalah pribadi yang unik dengan perpaduan antara sifat tegas dan dere-dere (memangnya tsundere?). Anak pertama (Ichiko) mereka adalah fujoshi bertubuh cebo-- ah, maksud saya kurang tinggi--dengan kepribadian super narsis yang tertutupi oleh sifat tsunderenya. Anak kedua (Nikko) mereka merupakan anak yang paling cantik--menurut sang kakak--karena kulitnya yang lebih putih dan badannya yang cukup proporsional. Sifatnya oujousama alias (sok) ratu sehingga sang kakak sering dijadikan objek penderitaan. Yang terakhir, anak ke tiga (Sanko) adalah sesosok gadis menyerupai lelaki karena tubuhnya yang ehempettanehem.
Kelima anggota keluarga ini hidup bahagia di rumah kecil mereka di tengah hutan yang jauh dari keramaian. Mereka memilih tempat yang tenang dan sepi karena satu dan dua hal. Chichi dan Sanko sering pergi ke desa dan berinteraksi dengan masyarakat luar, sedangkan Haha, Ichiko, dan Nikko lebih tertutup. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu mereka di rumah. Haha mengerjakan pekerjan rumah, Nikko menikmati kerajaan kecilnya, sedangkan Ichiko berkumpul dengan tumpukkan gambar ikemen di kamarnya.
Pada suatu hari, Haha sedang pergi ke pasar di desa dan meninggalkan penghuni rumah lainnya dirumah. Karena Haha tidak ada, Ichiko memanfaatkan waktu tersebut bersama bantal, guling, dan selimut tercintanya. Itu adalah pagi yang tenang..saangat tenang jika saja Nikko tidak membangunkan Ichiko dengan teganya.
"Neechan! Bangun! Sudah siang! Dasar kuda nil!" teriak Nikko di pagi itu.
"Ngh.. 5 menit lagi." balas sang kakak.
"TERLALU LAMA! AYO CEPAT BANGUN! ITU CUCI PIRINGNYA!" teriak Nikko lagi. Kali ini sambil menarik selimut yang tengah digunakan Ichiko sampai gadis tersebut berputar dan terjatuh dari kasurnya.
"NGAH! Aku belum makan tau! Kenapa gak cuci sendiri aja sih? Kan kamu yang udah makan!" balas Ichiko.
"Lah tau darimana aku udah makan? sotoy amat." ledek Nikko.
"Ya tau lah. Toh tadi waktu kamu ngebangunin neechanmu yang satu ini, mulut kamu masih bau mie goreng. Dan bau mie gorengnya itu udah bercampur sama senyawa-senyawa abstrak di mulut kamu dan baunya minta ampun." jawab Ichiko. Ia berlari secepat mungkin sebelum sang adik melemparnya dengan bantal miliknya.
"Grr, masih bau acay punya neechan tau!" teriak Nikko, marah.
"Hah? Acay? Yang sering ngacay siapa ya? Liat nih bantal ga ada jejak pulau bali satu pun! Coba liat bantal kamu sendiri! Ada pulau bali, madagascar, sampai pulau fiji pun ada tuh!" ledek Ichiko, balas dendam.
"NEECHAN KUDA NIL GENDUT! ANNOYIIIIIING!"
Dan begitulah.. Pagi itu dipenuhi oleh teriakan kedua bersaudara itu. Walaupun hidup di tengah hutan, namun hidup mereka sama sekali tidak pernah kesepian. Selalu ramai..




土曜日, 6月 8 |
16:41
0